Perjalanan Film Independen Indonesia

Perjalanan Film Independen Indonesia

11 views
0

Film independen atau film indie adalah film yang dibuat kebanyakan di luar studio film besar. Istilah ini juga merujuk pada film-film seni yang berbeda dari beberapa film yang dipasarkan secara massal. Selain diciptakan oleh perusahaan produksi independen, film independen sering dibuat dan / atau didistribusikan oleh anak-anak studio besar. Agar dianggap independen, kurang dari separuh dana film harus berasal dari studio besar. Film independen terkadang dapat dengan mudah dibedakan dengan melihat konten dan gaya yang menggambarkan visi artistik pribadi sang seniman. Film independen biasanya, tetapi tidak selalu, dibuat dengan anggaran lebih rendah daripada film yang dibuat di studio besar. Umumnya, pemasaran film independen dapat dilihat dari rilis terbatas yang dirancang untuk menciptakan kata-kata mulut atau menjangkau sejumlah kecil pemirsa yang berdedikasi.

Akhir tahun 1980-an film Indonesia banyak disindir dengan Sekwilda atau Sekitar paha dan daerah dada, hanya berisi komedi seks, horor seks, dan tema seks penuh untuk mencapai keuntungan saja. Dengan kualitas rendah dan asal jadi dari segi cerita dan sinematografi itu. Karena kualitas film yang buruk, Festival Film Indonesia (FFI) yang diadakan sejak 1973 harus dihentikan pada tahun 1994. Pada saat itu film-film impor Amerika, Mandarin dan India didominasi di negara merah dan putih ini. Menurut pengambilan kembali dari Rumah Film, kami menerima 1.000 hingga 1.200 film asing per tahun melalui bioskop, televisi, compact disk video dan unduhan melalui internet. Dari BP2N tercatat produksi film nasional berkisar antara 200 hingga 300 film dalam 10 tahun terakhir pada 1980-an. Sangat jauh jika dibandingkan dengan industri Bollywood yang dapat menembus 1.000-1500 dalam 10 tahun.

Selama itu tema sinema Indonesia tidak pernah bergeser dari seks, kekerasan, mistisisme dan sadisme. Cermin ini gagap gila film nasional atas kreativitas stagnan yang tersasung pemerintahan. Tidak dapat dipungkiri bahwa ini adalah cermin selera pasar yang rendah. Tapi itu tidak mutlak, karena pasar tidak punya pilihan lain yang ditawarkan oleh pembuat film yang cerdas!

Selain stagnansi industri perfilman Indonesia karena aturan ketat, bahkan istilah saya cenderung lebih mematikan, bioskop monopoli oleh kelompok usaha Subentra Group dengan jaringan 21 Cineplex yang dimiliki Sudwikatmono, untuk memasung film lokal, serta sabun bomming opera sabun opera yang ditayangkan TV swasta awal 1990-an, terbukti lebih populer daripada film yang dibudidayakan oleh pembuat film negeri ini.
WARNA dan semangat baru film Indonesia benar-benar muncul ketika kelesuan hampir mencapai titik nadir, membawa lulusan muda Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1996. Dia Garin Nugroho, yang gelisah tentang kondisi film Indonesia yang ketinggalan zaman. Berbekal idealisme dan intuisi yang cerdas, Garin Nugroho mampu membaca kebutuhan apresiapsi publik akan film nasional dengan baik.

Garin tampaknya membawa angin perubahan. Dengan tema yang realistis dan kemampuan visualisasi artistik, film produksi Garin mampu memukau penonton yang sedang dilanda kehausan untuk apresiasi. Jika dihitung (mohon dikoreksi jika salah), dari awal dekade 1990-an hanya film Garin Nugroho yang dianggap mampu bertahan dengan cita-cita dan pasarnya sendiri. Debutnya dalam Love A Slice of Bread (1991), membuat banyak orang kagum. Cara untuk menceritakan tentang kehidupan rumah tangga, masalah sosial hingga percakapan tentang seks, tampak elegan dan tidak biasa. Film ini memenangkan trofi gambar di FFI 1991 sebagai film terbaik.

Kemudian, berturut-turut Garin mengarahkan Surat To Bidadari (1994), Bulan Tertusuk Ilalang (1995), Daun di Atas Bantal (1998), Puisi Dikuburkan (1999), Rembulan Di Ujung Dahan (2002) hingga puluhan Serial Anak Pulau Thousand (1995) dan Pustaka Anak Nusantara (2001), dua yang terakhir didedikasikan untuk acara televisi untuk mewarnai acara hiburan media yang cerdas dan menyeluruh untuk pemirsa di negara ini.

GARIN mungkin ikon, tetapi pemicu yang menghantam genre bioskop independen masih dipegang oleh Kuldesak (1998) film buatan sendiri dari sekelompok orang muda yang menjadi anggota komunitas Days For Night Films. Mereka, Mira Lesmana, Riri Riza, Nan Triveni Achnas dan Rizal Mantovani. Kecuali Rizal, para lulusan muda sekolah film IKJ terobsesi dengan produksi film mereka sendiri. Sebelumnya mereka hanya dikenal sebagai seniman yang memproduksi, film pendek untuk kebutuhan belajar dan kadang-kadang membuat iklan layanan masyarakat dan klip video.

Awalnya Kuldesak dilakukan pada tahun 1996 menggunakan Digital Video yang dipinjam dan disewa di sana-sini, di mana peraturan pemerintah masih sangat ketat. Paling merepotkan, di antara kebutuhan seabrek tidak ada satupun yang pernah menjadi Astrada hingga empat kali. Pokoknya Kuldesak butuh waktu 2,5 tahun, hingga 1998 hanya muncul di bioskop. Mira dulu punya prustasi. Tapi toh rencananya tetap jalan, begitulah ceritanya

About author