Politik Indonesia Telah Bangkit

Politik Indonesia Telah Bangkit

62 views
0

Sistem perpolitikan di Indonesia sekarang semakin mengalami carut-marut. Sebab itu, politik di Indonesia wajib bangkit dari keterpurukan. Kebangkitan politik yang dicetuskan oleh founding fathers dalam rangka perjuangan kemerdekaan Indonesia yaitu oleh Soetomo, Ir. Sukarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, dr. Douwes Dekker wajib selalu diimplementasikan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia saat ini. Dalam konteks perpolitikan bangsa Indonesia sekarang, pertanyaan secara filosofis yang perlu diajukan dikenal sebagai apakah betul partai politik di Indonesia saat ini ini betul-betul berjuang untuk kepentingan bangsa Indonesia dan takdir rakyat Indonesia? Perihal inilah sejatinya yang perlu dijawab oleh elite partai politik dan para calon pemimpin ke depan demi kemajuan bangsa Indonesia.

Foto : Politik Indonesia

Bahwa bangsa Indonesia sekarang ini mengalami kebangkrutan politik ditunjukkan fakta di lapangan. Politik di Indonesia bukan lagi ditujukan untuk semangat memperjuangkan nasib oleh atau untuk seluruh rakyat Indonesia, keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia diperjuangkan. Bagaimana langkah-langkah mengeruk budget negara melalui akses kekuasaan dan elite politik di DPR, hasrat kekuasaannya hanya memperjuangkan partai politiknya masing-masing. Kejadian politik di Indonesia semakin menghalalkan segala cara, tidak paham mana yang halal dan haram. Penyakit korupsi yang dilakukan oleh elite politik hampir terjadi di seluruh partai politik yang ada. Partai politik tidak ada yang bersih dari penyakit korupsi. Demokrasi yang keblinger atau kebablasan ditunjukkan oleh semua partai politik di Indonesia saat ini. Sebab para elite politik tak paham benar sejarah kebangkitan nasional yang sudah melahirkan suatu partai politik di Indonesia dengan tujuan memperjuangkan kemerdekaan dan takdir hak masyarakat Indonesia.

Kita lihat saja faktanya, elite politik dan kepala daerah banyak yang terlibat korupsi dan praktik pencucian dana. Perihal ini menunjukkan pada bangsa Indonesia bahwa perpolitikan di Indonesia mengalami kebangkrutan dalam berpikir secara politik. Elite politik ternyata tak dapat mengimplementasikan nilai-nilai etika politik, politik kebangsaan, politik kemanusiaan, dan politik kejujuran. Kenichi Ohmae dalam karyanya The End of The Nation State (1996) menyatakan lebih ekstrem, bahwa banyak kekerasan politik dalam pilkada, dan merebaknya korupsi yang dilakukan oleh elite politik menjadi salah satu indikasi berakhirnya negara atau bangsa (nation state). Bangsa Indonesia bakal mengalami kehancuran. Sebab itu, proses berakhirnya negara bangsa wajib segera diselesaikan dan dihindari dengan selalu mengusung nilai-nilai kebangkitan nasional.

Moral elite politik mulai lenyap diterpa oleh paham oportunisme, materialisme, pragmatisme dan populisme. Unsur menjaga martabat dan wibawa sebagai pemimpin bangsa mulai sirna. Rasa kejujuran dan humanisme mulai tidak menampak dalam kinerja di pemerintahan. Elite politik mulai tak mengerti makna sebetulnya, apa itu makna berpolitik yang sesuai dengan nilai-nilai luhur kebangkitan nasional dan perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam konteks perpolitikan di Indonesia sekarang, kemerdekaan nasional dalam nilai-nilai kebangkitan masyarakat Indonesia mesti dimaknai bahwa politik mesti dijadikan alat untuk memberikan rasa kenyamanan, keadilan, serta mengeluarkan rakyat Indonesia dari kemiskinan dan penderitaan. Dan, menjadikan warga Indonesia lebih sejahtera, serta praktik mafia korupsi dan pialang korupsi politik anggaran harus dihapuskan dari negara Indonesia.

Politik yang terjadi di Indonesia sekarang adalah politik kesemrawutan, politik distrust, politik individualisme atau kepartaian. Kekuasaan dijadikan sebagai alat untuk mengusung kepentingan masing-masing dari satu partai politik dalam memperoleh keuntungan material dan harta dari budget negara. Padahal, politik telah semestinya mengedepankan pada politik kesejahteraan sebagai kulturalisasi demi memperjuangan nilai sejahteranya hidup bersama dalam homo homini socius, yakni manusia dikenal sebagai saudara bagi sesama. Inilah esensi dari nilai-nilai mewujudkan kebangkitan nasional sebagai kebangkitan politik sekarang ini. Elite politik hanya memahami hari kebangkitan secara parsial saja, hanya demi kepentingan partai politiknya. Bukan kebangkitan politik secara nasional —mulai dari sikap, perilaku, kebijakan, dan ideologi bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila, NKRI, Undang-undang Dasar 1945 dan Bhinekka Tunggal Ika— yang lebih dikedepankan oleh elite partai dalam sistem pemerintahan.

Karena itu, nilai-nilai rasa kebangkitan politik nasionalisme sekarang telah seharusnya dilakukan elite politik. Nasionalime adalah bentuk mencintai rasa keindonesiaan dan kebangsaan, rasa kemanusiaan dan rasa kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Tetapi, jika sikap mengeruk uang negara dengan cara manipulatif dan sikap koruptif terus dilakukan oleh elite politik dan pejabat publik, maka mereka berarti tidak mencintai Tanah Air Indonesia dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai kebangkitan nasional Indonesia. Elite politik saat ini lebih menekankan pada ego kepartaian, fanatisme partai politik, bukan berdirinya partai politik atas nama kepentingan nasional dan untuk kebangkitan politik nasional Bangsa Indonesia. Kebangkitan politik yang baik, etis dan untuk kepentingan semua rakyat Indonesia.

 

Wakil rakyat di DPR harus mulai mengubah paradigmanya tentang langkah-langkah berpolitik, dari egosentrisme kepartaian menuju partai politik yang selalu menjunjung tinggi semangat nasionalisme, persatuan untuk kepentingan bangsa Indonesia dan rasa mempunyai negara Indonesia tercinta ini untuk sebuah kemajuan, kesejahteraan dan keadilan bagi semua rakyat Indonesia.

About author