Tarian Cepetan Alas Khas Karanggayam Kebumen

Tarian Cepetan Alas Khas Karanggayam Kebumen

136 views
0

Tarian cepetan alas nyaris dengan tari kuda lumping ataupun ebeg, lantaran di Kebumen sendiri, ebeg dan kuda lumping sudah menjelma menjadi hiburan warga. Apalagi masyarakat yang kalangan bawah. Saat dibawakan tentunya selalu ramai, apalagi saat adegan klimaksnya yaitu penari-penari mengalami kesurupan.

Tarian Cepetan Alas Khas Karanggayam Kebumen

Tarian Cepetan Alas juga seperti itu, Barongan tak digunakan dalam Tarian Cepetan. Para penari hanya memakai topeng yang bentuknya seram. Sekilas topengnya kaya bentuk mulut Goa Jatijajar. Tarian Cepetan Alas maupun Ebeg, sekarang mulai kurang diminati, kalah sama tarian-tarian modern.

Menyajikan aura tersendiri yang bisa memikat penonton jika tari ini ditampilkan. Jika tak dilestarikan sama generasi penerus, tetep saja tari cepetan alas hanya tinggal sejarah saja.

Sebelum lanjut, kata dasar dari Cepetan Alas adalah Cepet dan Alas, dalam kamus bahasa jawa, Cepet itu adalah sejenis makhluk halus, dulu pas saya kecil sering diwanti-wanti kalau jam-jam 11 – 1 siang hari, anak kecil jangan main jauh-jauh, bukan cuma siang, mejelang maghrib juga diwanti-wanti begitu. Kemudian Alas, yang berarti Hutan.

Cerita yang pertama, menggambarkan proses pembukaan lahan untuk pemukiman di masa penjajahan Jepang di Karanggayam pada tahun 1943. 2 tahun sebelum presiden Soekarno mendeklarasikan Kemerdekaan Indonesia.

Saat itu, era dimana rakyat benar-benar mengalami yang namanya penderitaan, baik sandang, pangan, dan papan. Hal ini dialami juga oleh masyarakat Karanggayam. Selain itu, bencana tiap hari melanda berupa penyakit yang merenggut nyawa. Pertanian saat itu tidak bisa diandalkan.

Akhirnya seorang sesepuh menurunkan perintah untuk dengan sama membuka hutan untuk dijadikan lahan pemukiman dan pertanian yang baru. Hutan itu bernama Curug Bandung, sebuah hutan yang dikenal angker sekali.

Cobaan pun datang menghampiri sesepuh dan para masyarakat saat hutan Curug Bandung dibuka. Seluruh penghuni hutan, baik binatang dan mahluk halus (cepet, brekasakan, banaspati, raksasa dan lain – lain) harus mereka hadapi. Dengan perjuangan yang keras dari warga, sesepuh dan pemimpin pada saat itu, alhasil masalah, gangguan dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh penghuni hutan Curug Bandung pun bisa teratasi. Lantaran tidak ada lagi gangguan yang perlu ditakuti, tempat baru tersebut kemudian menjadi satu pemukiman yang kaya dan tenteram.

Cerita yang kedua, tari cepetan alas dengan topeng-topengnya yang horor adalah inisiatif dari masyarakat Karanggayam untuk mengusir penjajah dari perkebunan/lahan mereka. Dengan cara menyamar menjadi hantu, Cepetan Alas. Selain itu juga masyarakat membuat berita bahwa wilayah perkebunan itu memang angker. Untuk membuat penjajah takut, dan kemudian pergi dari wilayah perkebunan.

Topeng-topeng yang terlihat seram digunakan oleh cerita rakyat itu yang lalu ditampilkan dalam bentuk satu tarian cepetan alas yang dibawakan oleh sejumlah orang. Seakan menggambarkan makhluk halus berinisial cepet itu.

Tarian tradisional Cepetan Alas diawali dengan musik pengiring gamelan sederhana dan bedug. Kemudian disusul dengan kemunculan para penari yang memakai topeng dan pengantar dalam sebuah narasi singkat menggunakan bahasa Jawa tentang asal mula tarian tradisional Cepetan.

Beberapa gerakan menggambarkan perkelahian antara sosok manusia dengan berbagai macam mahluk halus dan binatang penghuni hutan yang diakhiri dengan kemenangan tokoh manusia dan menyingkirnya para mahluk halus dan binatang hutan. Atau gerakan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti para penjajah.

Dalam penampilannya, pawang akan menunjukkan atraksi dengan jurus-jurus. Saat penari-penari cepetan sudah mengalami yang namanya kesurupan, adegan ini biasanya dilakukan seakan pawang mengundang duel, jungkir balik beberapa kali yang diakhiri dilakukan penari dengan tumbangnya sang penari. Saat itu penari itu segera disembuhkan dari Kesurupan.

Adegan para penari kesurupan dikenal sebagai adegan yang ditunggu-tunggu warga, lantaran pada saat penari kesurupan, sering kali mereka melakukan gerakan-gerakan yang diluar kemampuan asli para penari. Mulai dari makan bunga, nggigit kelapa, jungkir balik, atau yang lainnya.

Ketika penari-penari telah disembuhkan dari kesurupan, atraksi Tarian Cepetan Alas akan berakhir tetapi hampir  seperti Ebeg, tarian Cepetan Alas mulai asing serta jarang dipertunjukkan. Cuma pada acara-acara tertentu saja, tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur warga.

About author