Cara Mudah Deteksi Dini Mata Kering, Waspada Bahayanya!

Cara Mudah Deteksi Dini Mata Kering, Waspada Bahayanya!

7 views
0

Kondisi mata kering seringkali hadir tanpa gejala yang pasti. Meski begitu, hal tersebut bukan berarti tak bisa dideteksi sejak dini. Mata yang kering biasanya membuat seseorang kesulitan menjalankan aktivitasnya. Padahal, cara mendeteksi kondisi mata kering, bukanlah hal yang sulit. “Bisa dideteksi di rumah dengan cara mudah. Caranya, Ambil kertas koran, lalu tatap huruf di situ, tanpa kedip mata selama 10 detik. Jika mata perih dan berair, mulai ada tanda mata kering,” ujar Dokter Spesialis Mata RS Mata JEC, dr. Nina Asrini Noor SpM., di Jakarta.

Cara Mudah Deteksi Dini Mata Kering, Waspada Bahayanya!

Jika sebelum 10 detik dan mata sudah terasa berair serta perih, maka sudah bisa disimpulkan bahwa air mata sedang mengalami penguapan secara abnormal. Cara mendeteksi ini, dikatakan Nina, bisa dilakukan setiap tiga bulan sekali atau saat pekerjaan sedang terlalu banyak. “Jenis pekerjaan yang terbilang banyak dikaitkan dengan durasi penggunaan gawai. Kalau durasi penggunaan gawai terlalu lama dan berlebihan, sebaiknya segera lakukan deteksi dini tersebut atau bisa juga dicegah sejak awal,” kata dia.

Jenis pencegahan yang dimaksudkan yaitu dengan mengistirahatkan mata dari pekerjaan yang berkaitan dengan gawai. Sebaiknya, istirahatkan mata selama 10 sampai 20 menit dalam rentang waktu satu jam. “Istirahatkan mata setiap 1 jam sekali dalam rentang 10 sampai 20 menit. Bisa juga seperti ini, semakin lama kerjanya maka makin lama mata diistirahatkan,” terangnya.

Umumnya, seseorang baru akan memeriksakan diri ke dokter jika penyakit yang diderita sudah terlanjur parah. Hal ini termasuk Dry Eye Syndrome, yang ternyata belum mendapatkan perhatian utama di Indonesia. Padahal, angka kejadian di Indonesia cukup tinggi yaitu mencapai 30,6% dan mayoritas penderita adalah perempuan berusia di atas 50 tahun, utamanya setelah mengalami menopause risikonya akan lebih tinggi. Bahkan, sepanjang 2017 Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center telah menangani pasien perempuan mata kering yang mencapai 59,7%.

Terdapat beberapa penyebeb timbulnya dry eye, yaitu:

1. Meibomian Gland Dysfunctional, yaitu kondisi kelenjar Meibom yang menghasilkan minyak mengalami penyumbatan

2. Evaporative Dry Eye, terjadi peningkatan penguapan air mata karena lapisan minyak pada mata tidak stabil

3. Aqueous Deficient Dry Eye, terjadi penurunan komponen air karena penyakit autoimun seperti lupus dan Rheumatoid Arthritis.

Untuk mendeteksi dry eye, ada beberapa metode yang bisa menjadi pilihan diantaranya kuesioner, Schimer Test untuk mengetahui volume air mata, Tear Break Up Time untuk menilai kestabilan air mata, Ocular Surface Staining untuk memantau kerusakan yang mungkin timbul akibat mata mengering hingga Tearscope dan Meibography untuk menilai bagaimana kondisi kelenjar meibom pada kelopak mata.

Sementara untuk penderita dry eye, Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center menghadirkan Dry Eye Service yang menjadi teknologi satu-satunya di Indonesia yang dapat mendiagnosis dan merawat gejala dry eye dengan maksimal. Di samping itu, terdapat E-Eye Intense Pulse Light Therapy yang memungkinkan stimulasi sekaligus memperbaiki kinerja kelenjar Meibom sehingga akan memperbaiki kualitas lapisan minyak (lipid) serta mengurangi kadar penguapan air mata.

“Awalnya akan dilakukan pengukuran penguapan air mata, normalnya seseorang akan berkedip itu 10 sampai 15 detik sekali. Untuk memproduksi air mata kalau lebih cepat dari itu maka terindikasi mata kering,” jelas Dr. Nina Asrini Noor selaku dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center.

Nah, ternyata terdapat metode sederhana untuk Moms melakukan deteksi mandiri mata kering. “Ini bisa dilakukan beberapa kali saat waktu luang, caranya ambil kertas lalu tatap salah satu objek misalkan huruf atau gambar. Lakukan tanpa mengedipkan mata selama 10 detik,” tuturnya. Nina mengatakan jika saat itu dilakukan dan mata terasa lelah, panas, dan berair berarti mengarah dry eye. “Sebaiknya memeriksakan diri ke dokter,” tutupnya.

About author