CAK NUN: DOSA PRABOWO ITU, DIPERINTAH MEMBUNUH MALAH MENYELAMATKAN

CAK NUN: DOSA PRABOWO ITU, DIPERINTAH MEMBUNUH MALAH MENYELAMATKAN

63 views
0

Prabowo Subianto, Ketua umum Gerindra kembali maju sebagai Capres pada Pilpres 2019 yang akan datang. Dan seketika kembali fitnah isu penculikan aktivis pada 1997-1998 pun kembali ramai di media sosial. Buzzer jahat masuk ke seluruh lini komunitas untuk memfitnah dengan segala cara untuk menggagalkan prabowo.

Fitnah keji musiman tersebut dikeluhkan oleh Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dan diluruskan, karena yang terjadi sesungguhnya tidaklah seperti yang difitnahkan oleh lawan politik prabowo.

“Prabowo itu salah satu yang diperintah, jadi ada beberapa satuan yang diperintah untuk mengantisipasi kelompok2 aktivis pada tahun 1997,” kata Cak Nun.

Namun, Cak Nun menyebut Prabowo Subianto mendapat kesialan saat menjalankan perintah tersebut.

“Nah sialnya, Prabowo itu ketika dia mengamankan tapi tidak dimusnahkan, terus jadi orang hilang itu. Yang diamankan oleh pasukannya Prabowo ini dikembalikan ke masyarakat. Makanya sekarang mereka ikut Gerindra. Memang diamankan, tapi ora dipateni. ngono loh, iki salahe dee neng kene kui (itu salahnya dia disitu itu). Kudune dipateni ora ono masalah wes, sebagaimana kelompok-kelompok yang lain. Makanya Pius (Pius Lustrilanang), Haryanto Taslam, mereka ikut Gerindra sejak awal, mereka berterima kasih kepada Prabowo ngono loh,” kata Cak Nun.

Haryanto Taslam disebut biasa dipanggil “Hartas” adalah seorang tokoh politik yang dikenal sebagai mantan aktivis era reformasi 1998 dan menjadi salah satu korban penculikan bersama dengan sejumlah aktivis demokrasi pada periode 1996-1998 seperti, Desmond Junaidi Mahesa, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, Mugianto, Andi Arief.

Di Partai Gerindra, Haryanto Taslam aktif sebagai Direktur Media Center di partai ini. Selanjutnya sejak tahun 2012, Hartas menjadi Dewan Pembina di Partai Gerindra hingga kepergiannya pada tahun 2015.

Begitu juga dengan Pius Lustrilanang, terjun ke politik dengan masuk ke partai Gerindra dan dikenal sebagai panglima Roemah Djoeang, inkubator politik Gerindra. Pius juga lantang menyuarakan bahwa Prabowo bukan penculik namun penyelamat mereka.

Desmond yang sekarang menjadi petinggi partai Gerindra, menyatakan hal yang sama. Terakhir Desmond berang dan mengancam portal berita detik akan memproses hukum karena kembali menggoreng isu penculikan padahal dirinya sebagai subjek yang dijadikan fitnah korban penculikan sudah berulang kali menjelaskan bahwa Prabowo itu menyelamatkan dirinya.

Sementara itu, Tim Pencari Fakta Kerusuhan Mei 98 antara lain Said Aqil, Marzuki Darusman, Bambang Widjojanto, Abdul Hakim Garuda Nusantara, dan Nur Syahbani menyatakan “Kesimpulannya, bahwa Pak Prabowo bukan dalang kerusuhan,”.

CAK NUN: DOSA PRABOWO ITU, DIPERINTAH MEMBUNUH MALAH MENYELAMATKAN

Hal ini membantah pernyataan mantan Panglima ABRI Wiranto yang menyebut Prabowo terlibat penculikan atas inisiatif sendiri. Menurut Tim Pencari Fakta “Itu beda dengan kesimpulan tim pencari fakta. Saya sebagai wakil tim pencari fakta kerusuhan Mei kesimpulannya Pak Prabowo tidak ikut campur sama sekali dengan kerusuhan,”.

Andi Arief sebagai salah satu korban-pun menyatakan hal yang serupa, “Dia (Prabowo Subianto) bukan penculik. Dia rangkaian dari 1996 yang mencari kami (seperti) Syarwan Hamid dan lainnya. Akhirnya mereka memutuskan pakai yang terbaik, pakai Kopassus. Jadi kami bukan diculik, tapi ditangkap. Memang yang seharusnya menangkap polisi tetapi saat itu keadaan tidak normal. Saya juga tidak tahu kata penghilangan aktivis itu dari mana.”

Semua menyatakan hal yang sama.

Ntah sampai kapan fitnah keji ini berakhir, Hari ini ketika Jokowi dan Prabowo Subianto kembali bertarung di Pilpres 2019. Fitnah keji penculikan kembali di goreng meski dianggap usang dan tidak masuk akal sebagaimana kata Cak Nun orang-orang yang dituduh sebagai korban penculikan.

Yang pasti Prabowo memberikan tauladannya kepada bangsa ini, “Sing Becik Ketitik, Sing Olo Ketoro”. Prabowo bersabar, menjalani takdirnya dan kini saatnya kita semua anak bangsa berjalan seiringan dengannya untuk kemajuan negeri ini.

About author