Bos-Bos Harus Tahu, Para Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini!

Bos-Bos Harus Tahu, Para Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini!

16 views
0

Suatu waktu, dalam perjalanan kereta menuju Batang, Jawa Tengah, saya yang lajang, lelah bekerja, tapi juga nggak pernah kaya, sempat berpikir, “Duh, kalau sudah menikah dan punya anak, mungkin nggak akan disuruh ke luar kota melulu”. Menurut ilmuwan sosial Bella DePaulo, pekerja lajang memang paling banyak diberi beban kerja, distereotipikalkan, distigma, dan diabaikan. Sementara, pekerja yang berkeluarga lebih sering didengar aspirasinya, terutama soal lembur, bekerja di luar kota, dan bekerja pada hari libur. Ini adalah bentuk diskriminasi baru di tempat kerja. Diskriminasi terhadap lajang.

Pekerja lajang sering dianggap memiliki lebih banyak waktu luang dan tidak memiliki beban finansial. Sebab itu, pekerja lajang menjadi favorit untuk diberi pekerjaan tambahan ataupun diberi upah lebih kecil. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh OECD menunjukkan bahwa pekerja yang sudah berkeluarga dengan dua anak memiliki pendapatan lebih tinggi dibandingkan yang melajang. Padahal, dalam banyak kasus, posisi mereka sama. Ini lantaran pekerja yang sudah berkeluarga dianggap memiliki lebih banyak kebutuhan dan beban finansial. Lalu, bagaimana dengan pekerja lajang perempuan? Duh, menjadi lajang dan perempuan lebih tidak diuntungkan.

Sudah bukan rahasia kalau ketimpangan gaji berdasarkan jenis kelamin jamak terjadi. Rata-rata di seluruh dunia, pekerja perempuan mendapatkan 80% saja dari apa yang didapatkan laki-laki. Sementara di Indonesia, ilustrasinya dapat dilihat dari ketimpangan pendapatan buruh perempuan yang hanya 76% dari pendapatan buruh laki-laki. Jadi, kalau ada yang bilang “liburan, pijat, dan belanja saja kalau lelah” akibat diskriminasi berganda ini, nyatanya tak semua pekerja lajang perempuan memiliki kekuatan finansial untuk berlibur, pijat, atau belanja ketika lelah.

Bos-Bos Harus Tahu, Para Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini!

Namun, istirahat kan nggak harus mengeluarkan uang. Kalau capek bekerja, ya istirahat saja di rumah. Bisa tidur-tiduran, nonton, mengurus tanaman, atau apalah yang nggak keluar duit. Begitu, kan? Sayangnya, banyak pekerja lajang juga tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Pekerja lajang akan lebih sering melakukan pekerjaan-pekerjaan lapangan, ke luar kota, ataupun lembur. Penolakan si lajang terhadap pekerjaan tambahan sering tidak dikabulkan perusahaan.

Lajang dianggap tidak memiliki banyak keperluan karena tidak harus menemani keluarga. Kalaupun menolak, si lajang akan dianggap egois, hanya suka bersenang-senang, tidak bertanggung jawab, dan sulit diajak bekerja sama. Sementara pekerja yang sudah berkeluarga akan lebih dimaklumi ketika beralasan ingin menemani anak di hari libur. Terdengar masuk akal, namun apa lantas pekerja lajang harus mengorbankan waktunya? Apa pekerja lajang lantas nggak punya kehidupan lain hanya karena belum atau tidak ingin berkeluarga? Penelitian Bella DePaulo mengungkapkan sebaliknya.

Lajang justru lebih banyak terlibat dalam kegiatan sosial, kerelawanan, serta banyak berinvestasi dalam hubungan personal. Lajang juga lebih banyak turun tangan dalam mengurus orang tua ketika mereka sakit atau sekadar membutuhkan bantuan. Sebaliknya, lajang juga akan menjadi orang yang paling membutuhkan bantuan orang lain di sekitarnya, karena mereka belum berkeluarga. Sayangnya, lajang nggak bisa saling mendukung satu sama lain, karena mereka tidak dapat mengambil cuti untuk mengurus kawan yang sakit.

Berbeda dengan mereka yang telah berkeluarga dan ingin mengurus suami, istri, atau anaknya yang sakit. Mungkin sebab itulah beberapa perempuan lajang ketika lelah bekerja inginnya kawin saja. Tapi, apa iya, kawin-mawin bisa jadi jalan keluar? Di dunia yang masih lebih banyak menguntungkan laki laki dan percaya pada fungsi tradisional perempuan dalam rumah tangga, menikah tentunya bukan jalan keluar dari kelelahan bekerja. Menikah malah bisa jadi lebih lelah, karena jadi seperti pindah kerja dari pekerjaan formal delapan jam sehari menjadi pekerjaan domestik yang jam kerjanya lebih panjang dan tanpa waktu cuti.

Apalagi, dalam masyarakat yang percaya bahwa perempuan harus menurut pada suami, maka sesungguhnya sama seperti mendapatkan bos baru. Bedanya, dengan bos baru ini, kamu harus menurut selama 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Kalau nggak nurut sama bos di kantor paling ditegur, dapat surat peringatan, atau dipecat. Lha, kalau nggak nurut sama bos baru tadi, neraka ganjarannya. Bagus juga kalau menikah lalu dapat suami yang baik dan kaya raya seperti Nick Young dalam film Crazy Rich Asians.

Tapi, bagaimana kalau nasib kita seperti Astrid Young Teo? Sudah dapat suami yang lebih miskin, belagu, selingkuh, masih sempat playing victim pula. Tentu sangat banal kalau melihat menikah sebagai pekerjaan, tapi hubungan (terutama pernikahan) bukanlah sesuatu yang kita terima begitu saja, lalu semuanya akan baik-baik saja. Menikah juga membutuhkan daya upaya yang sama kerasnya atau bahkan lebih keras dari bekerja. Menikah bukan pegadaian yang bisa mengatasi masalah tanpa masalah. Menikah adalah bekerja keras agar sebuah lembaga kecil dalam masyarakat ini semakin sejahtera dan tidak tercerai-berai.

Kalau nggak mau kerja keras, sebaiknya jadi Paman Gober saja atau mimpi punya pohon duit. Persoalan lelah bekerja tidak seharusnya berkaitan dengan status pernikahan. Tingkat pendapatan dan waktu libur sudah seharusnya terkait dengan kontrak kerja dan jenis pekerjaan. Kalau lelah bekerja, sudah sewajarnya pekerja memiliki kesempatan untuk beristirahat. Karena diskriminasi harus dilawan dan setiap pekerja berhak dihargai sesuai dengan pekerjaannya, bukan status pernikahannya. Lajang sedunia bersatulah, lajang bersatu tak bisa dikalahkan…

About author