Letjen Purn Suharto: Pemilu Sekarang Paling Curang Dan Zalim

Letjen Purn Suharto: Pemilu Sekarang Paling Curang Dan Zalim

9 views
0

Dalam aksi massa di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, Jakarta, mantan Komandan Korps Marinir purnawirawan Letjen (Mar) Suharto ikut menyampaikan orasi. Sebagai pensiunan tinggi militer, Suharto menyatakan, Pemilu kali ini sangat kentara kecurangannya.

Dalam orasinya, Suharto berdiri di depan massa dengan mengenakan baret ungu di atas kepalanya yang merupakan warna khas Marinir.

“Pemilu sekarang ini, pemilu yang paling curang. Paling tidak bermartabat,” teriak Suharto di atas mobil komando saat menyampaikan orasi, Senin 21 Mei 2019.

Suharto pun mengajak, para pendukung pasangan Prabowo – Sandi untuk melawan kecurangan. Selain itu, ia juga meminta kepada aparat keamanan TNI dan Polri sebagai alat negara, bukan alat pemerintah.

“Saya hanya minta pada anak-anakku, adik-adikku ABRI, TNI, dan Polri, ini tugas pokok kita melawan kezaliman. Dari dulu yang saya minta cuma satu, terbaik untuk rakyat, terbaik untuk ABRI, kita tidak akan mengkhianati. Oleh karenanya itu, ajak seluruhnya, baik TNI maupun Polri, kalian sebagai alat negara bukan alat pemerintah, bukan alat penguasa,” katanya.

Letjen Purn Suharto: Pemilu Sekarang Paling Curang Dan Zalim (pojokutama.com)

Letjen Purn Suharto: Pemilu Sekarang Paling Curang Dan Zalim

Adapun, Suharto sudah lama pensiun, yaitu di tahun 1999. Tetapi, sepanjang yang diketahuinya, ia mengatakan jika pemilu serentak tahun ini jauh lebih zalim ketimbang rezim Orde Baru.

“Kalau saya bandingkan dulu dan sekarang, sekarang ini jauh lebih zalim, kita bersama di sini dalam keadaan sama-sama dizalimi. Selama saya dinas sudah berulang kali dilakukan pemilu, tapi pemilu sekarang ini pemilu yang paling curang, yang paling tidak bermartabat, bagi saya tidak ada kata lain, lawan, lawan, dan lawan!” ujar Suharto lantang.

Lebih lanjut menurut Suharto, musuh terbesar saat ini adalah melawan invasi China ke Indonesia, kepolisian yang melanggar sumpah dan bahaya ideologi komunisme.

“Ingat kalau lepas 2019 ini, maka tahun 2024, 2029 dan seterusnya kita menjadi jongos di republik ini. Oleh karenannya ada dua pilihan bangkit atau punah,” tandasnya.

Kemudian, mengakhiri orasinya Suharto meneriakan kalimat Takbir. “Allahu Akbar!” teriak Suharto sebelum turun dari atas mobil komando. Hingga pukul 17.18 WIB, massa masih berada di depan gedung Bawaslu dan rencananya akan berbuka puasa bersama.

About author

Your email address will not be published. Required fields are marked *