Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat

Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat

13 views
0

Korban kekerasan terhadap jurnalis saat meliput aksi unjuk rasa berujung kerusuhan pada 21-22 Mei, makin bertambah. Dari data sementara yang dicatat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta ada 20 jurnalis dari berbagai media yang menjadi korban kekerasan.

Peristiwa kekerasan itu terjadi di sejumlah titik kerusuhan di Jakarta, yakni di kawasan Thamrin, Petamburan, dan Slipi Jaya, Jakarta. Pihak aparat kepolisian dan massa diduga menjadi pelaku kekerasan tersebut.

Adapun, kekerasan yang dialami jurnalis berupa pemukulan, penamparan, intimidasi, persekusi, ancaman, perampasan alat kerja jurnalistik, penghalangan liputan, penghapusan video dan foto hasil liputan, pelemparan batu, hingga pembakaran motor milik jurnalis.

Mayoritas kasus kekerasan itu terjadi saat para jurnalis meliput aksi unjuk rasa di sekitar Gedung Bawaslu, di kawasan Thamrin. Beberapa kasus di antaranya, aparat kepolisian melarang jurnalis merekam aksi penangkapan orang-orang yang diduga sebagai provokator massa.

Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat (pojokutama.com)

Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat

Meski mereka sudah menunjukkan identitasnya, seperti kartu pers kepada aparat namun para jurnalis tetap mengalami kekerasan. Aparat menunjukkan sikap tidak menghargai kerja jurnalis yang pada dasarnya sudah dijamin dan dilindungi oleh UU Pers.

Sementara AJI Jakarta, hingga saat ini masih mengumpulkan data dan verifikasi para jurnalis yang menjadi korban. Tidak menutup kemungkinan, masih banyak jurnalis lainnya yang menjadi korban, dan belum melapor.

Berikut data korban yang dicatat AJI Jakarta terkait kasus kekerasan terhadap jurnalis;

Budi, kontributor CNN Indonesia TV, mengalami kekerasan fisik, perampasan alat kerja dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi. Intan dan Rahajeng, jurnalis RTV, mengalami persekusi oleh massa aksi.

Draen, jurnalis Gatra, mengalami kekerasan fisik dan diusir oleh polisi. Felix, jurnalis Tirto, dihalangi saat liputan. Dwi, jurnalis Tribun Jakarta, mengalami kekerasan tidak langsung, kepala bocor terkena lemparan batu massa aksi.

Ryan, jurnalis CNNIndonesia.com, mengalami kekerasan fisik, perampasan alat kerja dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi. Seorang reporter lainnya dari CNNIndonesia.com juga mengalami penghalangan peliputan dan perampasan paksa alat kerja oleh Polisi.

Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat (pojokutama.com)

Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat

Ryan, jurnalis MNC Media, alat kerjanya dirampas oleh massa aksi. Fajar, jurnalis Radio MNC Trijaya, mengalami kekerasan fisik, penghapusan karya jurnalistik dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi.

Fadli, jurnalis Alinea.id, mengalami kekerasan fisik dan penghalangan liputan. Fahreza, jurnalis Okezone.com, mengalami perusakan alat kerja/motor oleh massa aksi. Putera, jurnalis Okezone.com, mengalami perusakan motor oleh aparat.

Aji, jurnalis INews TV, mengalami kekerasan fisik dan diusir oleh aparat Kepolisian. Setya, jurnalis TV One, mengalami kekerasan fisik dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi. Ario, VJ Net TV, mengalami perusakan alat kerja/motor dibakar.

Yuniadhi, fotografer Kompas, motornya dirusak. Topan, fotografer Tempo, mengalami kekerasan tidak langsung, matanya kena serpihan dari bom molotov massa aksi.

Niniek, jurnalis AP, mengalami persekusi online (doxing). Seorang kru ABC News mengalami intimidasi oleh aparat Polisi.

Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat (pojokutama.com)

Terburuk Sejak Reformasi, 20 Wartawan Jadi Korban Kekerasan Aparat

Kasus kali ini merupakan kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terburuk sejak reformasi.

Kemudian, atas tindakan tersebut, AJI Jakarta dan LBH Pers mengecam keras aksi kekerasan dan upaya penghalangan kerja jurnalis yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun massa aksi. Kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis saat meliput peristiwa kerusuhan dapat dikategorikan sebagai sensor terhadap produk jurnalistik.

Perbuatan itu termasuk pelanggaran pidana yang diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta.

“Kami mendesak aparat keamanan dan masyarakat untuk menghormati dan mendukung iklim kemerdekaan pers, tanpa ada intimidasi serta menghalangi kerja jurnalis di lapangan,” tegas Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani Amri, dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Jumat (25/5/2019).

“Kami juga mengimbau kepada para pimpinan media massa untuk bertanggung jawab menjaga dan mengutamakan keselamatan jurnalisnya, ” lanjutnya.

Naun demikian, AJI juga mengimbau para jurnalis yang meliput aksi massa untuk mengutamakan keselamatan dengan menjaga jarak saat terjadi kerusuhan.

About author